SMAN 3 Amlapura, yang merupakan Sekolah Menengah Atas termuda di Kabupaten Karangasem, pada bulan ke-3 tahun 2008 ini menerima kejutan yang membanggakan, sekaligus membahagiakan. Sebagai sekolah yang sangat muda (kurang dari 2 tahun) dan terletak relatif di pedesaan (Seraya), salah satu siswinya telah mampu menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dalam perayaan Hari AIDS Nasional tahun 2007, yang diselenggarakan BKKBN Pusat, siswi SMAN 3 Amlapura mampu meraih peringkat 2 Nasional dalam bidang penulisan Essay. Prestasi tersebut diraih oleh peserta ekstra KIR, atas nama Ni Luh Ari Namiati, dengan Judul Tulisan, PEMANFAATAN TOPENG SIDAKARYA SEBAGAI MEDIA SOSIALISASI HIV/AIDS.
Dalam pesannya saat menyerahkan piagam penghargaan, Drs. I Made Tangkas, selaku Kepala Sekolah SMAN 3 Amlapura, mengharapkan agar prestasi ini menjadi tonggak start bagi berbagai raihan keberhasilan di masa yang akan datang. Drs. I Made Tangkas juga berpesan agar kondisi sekolah yang berlokasi di pedesaan dan tingkat perekonomian masyarakat pendukung yang relatif kurang, tidak menjadi alasan bagi seluruh civitas sekolah untuk berhenti berkarya. Beliau mengatakan, kondisi itu hendaknya menjadi tantangan untuk terus berkarya, membangun sekolah khususnya dan masyarakat Seraya pada umumnya.
Pada kesempatan yang sama, I GN. Widana Putra, selaku Pembina KIR SMAN 3 Amlapura, menyampaikan rasa bangganya atas raihan prestasi tersebut. Widana mengatakan hendaknyalah raihan ini menjadi motivator bagi seluruh siswa untuk terus berprestasi, dan menjadikannya sebagai pembuktian kepada diri sendiri bahwa pada dasarnya siswa Seraya memiliki potensi yang setara dengan siswa dimanapun di republik ini.
SMAN 3 Amlapura pengoperasiannya diresmikan oleh Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal, Saefullah Yusuf, pada tanggal 11 Januari 2007. Pada usia yang sangat muda tersebut, seluruh civitas sekolah memiliki keinginan kuat untuk terus meningkatkan prestasi dengan berkarya. Dalam pengembangan sekolah kedepan, sekolah telah merumuskan visi dan misi, yang pada intinya berisikan “mimpi” untuk dapat menjadi sekolah yang mampu menghasilkan lulusan yang: literate sains/ teknologi, memiliki Srada dan Bhakti, serta memiliki kecintaan dan kearifan sebagai manusia Seraya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, sekolah telah menggagas berbagai macam kegiatan, seperti: penggalakan kegiatan ekstra kurikuler, pembentukan club sains (Kimia, Fisika, Biologi, Ekonomi, Matematika, Astronomi, dan Komputer Programer), dan pelaksanaan Trysandia 2 kali sehari (Pagi dan siang).
Sekolah yang sampai sekarang belum memiliki pagar pembatas ini, juga sangat melibatkan peran masyarakat pendukung dalam pelaksanaan kegiatan sekolah. Dengan inisiatif Kepala Sekolah, Rapat komite adalah agenda rutin yang selalu dilaksanakan setiap bulan. Bahkan unsur pimpinan komite selalu diundang untuk mengikuti persembahyangan Purnama/ Tilem, dan memberikan Dharma Wacana di akhir persembahyangan.
Sampai tahun ajaran kedua ini, SMAN 3 Amlapura baru memiliki 15 orang guru tetap dengan berbagai disiplin ilmu. Namun dari jumlah guru tersebut, sekolah belum memiliki tenaga pengajar tetap di bidang Bahasa Inggris, ekonomi, dan olah raga. Untuk menutupi kekurangan tersebut, bersama dengan komite, sekolah secara swadaya mempekerjakan guru honorer pada bidang studi tersebut.
Dalam mendukung pencapaian visi sekolah, saat ini sekolah telah memiliki 2 Lab IPA dan 7 Ruang belajar. Pasilitas tersebut sebagian berasal dari bantuan pemerintah daerah Kabupaten Karangasem dan ada pula yang berasal dari Blok Grand BIS. Yang membanggakan, untuk dana BIS yang dikelola sekolah tahun 2007, sekolah mampu menyediakan dana pendamping sebesar 32 juta dari sumbangan masyarakat tanpa membebani APBD Kabupaten. Dana tersebut berasal dari sumbangan pengelola fasilitas pariwisata di desa Seraya, tepatnya Mr. Hans yang mengelola Vila Arjuna.Untuk tahun-tahun kedepan, sekolah berharap dapat memenuhi kebutuhan Ruang Belajar, Lab IPA, dan Ruang Perpustakaan.
Dalam bidang Kurikulum, dengan dikomandani Waka Kurikulum, I Gusti Made Ngurah, sekolah menerapkan dua kurikulum yang berbeda untuk kelas X dan XI. Menurut Made Ngurah (peraih guru teladan III Kabuapten tahun 2007), pembedaan ini bukan diskriminasi, tetapi menyesuaikan dengan materi ujian yang akan dihadapi siswa setelah nantinya kelas tiga. Ini menunjukkan sekolah telah memiliki pandangan futuristik, dalam menerapkan kebijakan dan program, warna futuristik inilah yang akan selalu dipertahankan dalam perumusan berbagai program sekolah.